28 October 2012

Uang Seribu

“Saya ini orangnya jujur mas. Maka sejak awal udah tak kasih tahu, kalau nanti saya jawabnya bisa gak jujur,” katanya sembari tertawa. 

                                                    A. R. Sanjaya

Sore itu adalah sore yang biasa di Malioboro. Tidak ada event-event budaya dan politik seperti yang selama ini diadakan di ruas jalan satu arah itu. Jalanan ramai, seakan tidak ada waktu satu detikpun untuk tidak mendengar suara mesin. Kebetulan saya berjalan-jalan dan tertarik untuk mengobrol dengan seseorang.

Ketika didatangi Sandi sedang mengisi ulang baterai telepon genggam miliknya di depan salah satu toko di samping toko elektronik Sami Jaya. Ia mengenakan jaket kulit warna hitam, celana jeans hitam, dan sepatu formal. Rambutnya terkesan basah dan rapi dengan disisir mundur. Bibirnya menghitam karena rokok yang selalu dihisapnya. Ketika beberapa kali lengan jaketnya terangkat, tampak di tangan kanannya tat0-tato yang sudah dimiliki sejak masa remaja.

“Lihat yang itu, mas? Dia sudah masuk penjara enam kali,” katanya sambil menunjuk seorang juru parkir yang masih remaja.

Juru parkir yang ditunjuk itu tertawa saja ketika mendengar dirinya dibicarakan. Kendati tidak memiliki hubungan saudara, Sandi memanggil juru parkir itu dengan kata ‘dik’, tanda bahwa mereka akrab di lingkungan ini.

Juru parkir itu mengenakan rompi oranye dengan tulisan “JURU PARKIR” dan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk menyampaikan keluhan mengenai permasalahan parkir.

“Ah, itu cuma formalitas. Coba ditelpon, nanti salah sambung,” katanya sambil tertawa kepada juru parkir yang dianggapnya adik itu.

Sandi memang sosok yang dituakan di antara juru parkir di kapling dekat toko Sami Jaya ini. Bagaimana tidak, ia bukan juru parkir di sana, melainkan orang yang punya lahan parkir. Ia mengaku kini punya empat lahan parkir yang ia sebut kapling. Tiga kapling di kawasan Malioboro, satu kapling di Jalan Mataram.

“Saya ada 16 anak buah. Tiap kapling ada empat, gantian jaga jam sembilan sampai tiga, lalu jam tiga sampai jam sembilan,” tuturnya.
Mempekerjakan 16 orang tentu bukan hal yang mudah bagi Sandi. Selain karena masalah uang adalah masalah sensitif di kalangan juru parkir Malioboro, Sandi menganggap pemerintah justru seperti preman yang tinggal ongkang-ongkang kaki menerima uang hasil setoran mereka.

“Mereka minta setoran tiap bulan. Tidak pakai persenan pendapatan, itu yang memberatkan,” kata Sandi.

Itu juga yang menjadi alasan bagi Sandi untuk tidak bisa jujur mengenai berapa pemasukan yang ia dapat selama sehari. Ia curiga orang yang menanyainya hendak ‘menjual’ informasi itu kepada dinas, sebagai dasar dan alasan berapa rupiah yang harus mereka setorkan.

Ia bercerita bahwa dalam satu bulan Dinas Pariwisata memberikan 30 bendel karcis parkir motor. Satu bendel itu berisi 100 lembar karcis bertuliskan nilai nominal 1000 rupiah. Sandi menolak menyebut nominal, ia memberikan petunjuk ini untuk memberi jawaban atas berapa nominal yang harus ia setorkan kepada Dinas Pariwisata.

“Masalah uang di sini masalah perut, mas. Kita gak boleh main-main dengan masalah perut. Kemarin ada yang sampai mati gelut di sini, sama-sama tukang parkir,” katanya.

Konflik ini berawal ketika salah seorang juru parkir meminta uang parkir pada pengendara yang parkir pada kapling yang bukan miliknya. Juru parkir lain yang merasa punya kapling itu merasa tidak terima pemasukannya diambil. Mereka lalu ribut berkelahi, tak disangka, salah seorang dari mereka membawa pisau. Dalam beberapa detik perkelahian, salah seorang juru parkir yang kena pisau sudah tergeletak di jalan dengan pendarahan parah pada perutnya.

“Itu cuma gara-gara uang seribu, mas, bayangin aja. Hidup di jalan itu keras,” kata Sandi sambil terus menghisap rokok.

Kebetulan ketika obrolan sore itu terjadi, di depan toko Sami Jaya datang beberapa polisi berseragam harian di atas sepeda motor mereka. Mereka memarkirkan kendaraan di depan toko, berbincang sebentar sambil masing-masing melepas helm. Tak lama kemudian mereka masuk toko.

Sandi bercerita, hampir tiap hari toko itu dimasuki polisi. Bukan tanpa alasan, toko ini dikenal sebagai toko yang paling sering menadah barang-barang curian. Biasanya telepon genggam. Pernah suatu kali polisi menangkap seorang copet yang sedang menjual barang hasil copetannya di sini.

“Tapi lihat ya, mereka itu pongah. Mereka parkir seenaknya seperti itu, nanti kalau dimintai uang parkir justru marah-marah,” ceritanya dengan raut wajah benci.
Tak hanya itu, menurut cerita pedagang-pedagang di toko yang bercerita ke Sandi, polisi itu juga meminta uang setoran. Tidak disebutkan jumlahnya, tapi pedagang itu tak tahu untuk apa mereka memberi uang setoran kepada polisi.

Begitu juga ketika lewat empat orang petugas satpam berbaju putih bercelana biru tua yang berjalan beriringan di seberang jalan. Sandi merasa tidak tahan untuk tidak bicara mengenai kebusukan hal yang mereka lakukan.
“Ini lagi, mas. Coba dipikir, ngapain mereka sore-sore begini jalan-jalan? Mereka itu utusan orang dinas, sering narik setoran juga,” jelas Sandi.

Ia mengatakan dulu pernah dimintai uang oleh orang-orang dinas ini. Tapi pada suatu kali mereka harus berhadapan dengan reaksi bertahan yang keras dari Sandi. Orang yang punya empat lahan parkir di daerah yang keras ini tentu bukan orang sembarangan. Kini mereka tak lagi meminta pungutan liar kepada Sandi.

Permasalahan juga pernah terjadi ketika ada wacana untuk memindahkan lahan parkir kawasan Malioboro ke Alun Alun Kidul. Usulan relokasi kawasan parkir oleh seorang  akademisi ini dianggap bisa menjadi solusi atas permasalahan macet di ruas jalan Malioboro.

Sandi sebagai seorang yang sudah merasa mapan dengan ‘usaha’ yang ia miliki sekarang menolak dengan keras usulan tersebut. Ia bahkan mengatakan akademisi yang berasal dari perguruan tinggi negeri terkenal di Yogyakarta itu justru sebagai orang yang bodoh. Namun bila usulan itu harus dilaksanakan, ia mau melakukan dengan memberikan syarat yang berat untuk dipenuhi pemerintah.

“Saya mau pindah. Asal mereka menjamin saya punya pemasukan yang lebih besar dari sekarang. Karena selain saya punya tanggung jawab di keluarga, 16 orang yang ikut saya juga punya tanggung jawab di keluarga mereka masing-masing,” jelasnya.

Syarat yang sukar dipenuhi ini tentu punya alasan yang bisa dipahami. Menurut Sandi alasan itu kembali pada masalah mendasar manusia, yaitu urusan perut. Ia mengatakan bahwa orang lalu bisa melakukan apa saja ketika berhadapan dengan urusan yang satu ini.

Di awal pembicaraan ia bilang ia bisa saja berbohong ketika menjawab pertanyaan. Begitu juga dengan juru parkir yang berada di bawah kuasanya. Namun anehnya, Sandi mengatakan bahwa kunci dari bekerja di jalan semacam ini adalah kepercayaan.

“Coba saya tanya, di organisasi itu ada berapa orang yang pegang duit? Cuma satu, bendahara kan? Di sini beda. Lihat, tiap tukang parkir pegang duit, tunai lagi. Tapi saya percaya sama mereka, gak ada duit yang masuk kantong sendiri,” pungkas Sandi.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain