30 August 2013

Di Sanalah Tanah Airku

Sumber:
http://i1.ytimg.com/vi/Ckl58dc-SUs/hqdefault.jpg

Rabu (28/8/2013) kemarin ada pertandingan Persija versus Persib di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Selama pertandingan berlangsung ada beberapa insiden yang terjadi dan diliput media. Lewat tulisan ini ada dua insiden yang menurut saya tidak adil dalam pemberitaan media.


Pertama, penonton rusuh. Katanya ada bunyi petasan dari tribun penonton pada menit ke 18. Petasan inilah yang membuat pertandingan dihentikan sementara. Selain di dalam lapangan, saya juga membaca bahwa banyak kesepakatan yang dilanggar oleh suporter, salah satunya adalah mengenakan atribut tim.

Kedua, di tengah-tengah keributan itu turunlah Menpora, Roy Suryo, dari tribun VIP ke lapangan untuk menenangkan massa yang marah. Dia mengajak semua orang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Maksudnya heroik sekali, ketika semua menyanyikan lagu kebangsaan, diharapkan suasana menjadi khidmat dan damai. Tapi ada insiden yang membuat dia ‘dihabisi’ oleh media-media dan para pengguna akun jejaring sosial, dia salah menyanyikan lirik. ‘Di sanalah aku berdiri’ menjadi ‘Di sanalah tanah airku’.

Di mana letak ketidakadilannya?

Begini. Kerusuhan penonton, kesepakatan-kesepakatan awal yang kacau, rendahnya komitmen suporter, kebencian, dendam, dan ketidaktegasan petugas seakan tidak dibahas lebih lanjut oleh media. Sedangkan insiden salah lirik digunakan sebagai bahan untuk memperolok menteri lewat pemberitaan terus menerus. Karena adil adalah soal rasa, maka bolehlah saya merasa bahwa ada yang tidak adil di situ.

Ada beberapa alasan yang memberatkan saya untuk mendukung media mempermalukan menteri, tokoh, atau gantilah Roy Suryo dengan orang/pejabat publik lain.

Pertama, harus diakui bahwa insiden itu memang memalukan (Roy Suryo juga tampak grogi setelah dia sadar salah lirik), tapi saya kok curiga ada motif lain dari media selain mempermalukan. Roy Suryo tampaknya punya rekam jejak yang tidak begitu baik. Saya sering membaca komentar di media online, cercaan ke dia seputar pornografi. Selain itu saya juga mendengar dia termasuk salah satu yang bersuara (dalam arti sebenarnya) dalam keributan di sidang DPR.

Saya melihatnya kok malah media itu latah. Mentang-mentang jama nnya sudah lebih bebas dari Orde Baru, terus media jadi kritikus pemerintah. Selalu. Kritik itu terus menerus diperbaharui. Terlepas dari kualitasnya, bukankah mengkritik itu tidak sulit? Nah, kesalahan seorang menteri ini yang lalu menjadi pintu masuk untuk mengkritik pemerintah. “Iki lho, pemerintahmu kuwi bosok. Menterine wae ora isa nyanyi lagu kebangsaan.” Kira-kira begitu mungkin maksudnya.

Kesalahan dalam menyanyi lagu kebangsaan kemungkinan langsung dikaitkan dengan ‘kadar’ nasionalisme yang cethek. Kalau memang benar begitu, menurut saya pikiran untuk mengaitkan kedua hal itu sama cetheknya.

Kedua, pernahkah anda bicara di depan massa? Mungkin pernah. Tapi pernahkah ada ‘beban’ di pundak anda ketika bicara di depan massa? Maksud saya adalah, tidak bolehkah seorang menteri grogi/ndredheg/apapun itu namanya? Menteri itu menyandang beban yang tak ringan, bisa jadi lebih berat atau bahkan jauh lebih berat dari orang yang kerjaannya sehari-hari tidak lebih dari mantengin smart phone atau layar komputer sambil berkomenar menghina kerja para menteri dan pejabat publik. Apapun partainya, siapapun orangnya, seburuk apapun jejaknya, pasti ada beban mental yang dia terima. Atas alasan itu mungkin dia grogi lalu salah. Entah kenapa saya lalu memberikan pemakluman atas kesalahan itu, meski tetap saja memalukan.

Saya mengimajinasikan, apa yang terjadi kalau Roy Suryo hanya duduk diam di tribun. Mungkin tetap ada saja kritik yang datang. Namun menurut saya turun ke lapangan tetap lebih baik daripada diam.

Kedua keberatan itu lalu saya kaitkan kembali dengan hal yang tidak dibahas lebih lanjut oleh media. Kalau saya bisa sedikit memaklumi salah lirik, media tampaknya lebih bisa memaklumi suporter rusuh, urakan, tidak berpendidikan, kebencian, dendam, dan rendahnya komitmen untuk menghormati kesepakatan.

Apakah kesalahan menteri dalam lirik ini lebih menjual daripada berita penonton rusuh? Menarik pembaca lalu meningkatkan pemasukan iklan? Bisa jadi, dan kita tidak bisa apa-apa.

Apakah kesalahan menteri dalam lirik ini menandakan sesuatu yang lain yang sifatnya buruk? Bisa jadi juga, dan kita tidak bisa apa-apa juga, kecuali kita yang jadi menteri.

Jadi, saya tetap berpendapat bahwa media tidak adil. Saya tidak suka menteri yang satu itu, dan saya juga tidak suka dengan budaya rusuh dan bodoh yang dipelihara oknum suporter sepak bola. Itu saja.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain