14 January 2014

Gombloh dan Ancaman Sembelihnya

"Tak beleh kowe! Tak beleh tenan!" teriak seorang pemuda berbadan kurus dan berkulit hitam sambil berjalan lewat depan rumah.


Cara jalannya khas: cepat, dengan sandal yang diseret. Kadang dia pakai celana pendek, kadang celana panjang, yang selalu dia pakai adalah kaos yang selalu tampak kebesaran. Kami memanggil pemuda itu Gombloh.

Dulu Gombloh tidak tinggal di dusun kami, sejak kecil dia tinggal di dusun sebelah. Tapi entah kapan dan kenapa saya tidak tahu, bapaknya pindah ke dusun ini.

Gombloh adalah pemuda yang memiliki kelainan mental. Saya tidak tahu apa istilah yang tepat untuk dia. Dilihat dari fisik sebenarnya sudah tampak, kepalanya terlihat berukuran lebih kecil dari ukuran yang normal.

Kekurangannya itulah yang sering dipakai mainan oleh orang lain. Dulu pernah dia bikin ulah lalu muntah-muntah di tengah-tengah acara di dusun. Ternyata dia habis dicekoki minuman keras oleh para pemuda. Tak jelas apa maksudnya, mungkin untuk lucu-lucuan saja --yang jelas tak lucu jadinya.

Olok-olokan dan makian sering dilontarkan pada Gombloh. Parahnya, Gombloh juga bisa meniru kata-kata kasar yang diungkapkan kepadanya. Dia teriakkan kata-kata kasar itu sepanjang jalan untuk mengungkapkan amarahnya ketika habis diganggu orang.

Pernah suatu kali dia berteriak "Gawuk!!" berulang-ulang sambil jalan.

Dia sudah tidak memiliki ibu. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Namun saya sering mendengar dia bilang "Tak andake mbokku kowe!" (Kamu akan saya adukan ke ibu!) Itulah kata-kata yang sering dia ucapkan ketika sedang kesal.

Sekitar dua tahun lalu Gombloh pernah hilang selama kurang lebih sebulan. Dia dibonceng oleh seorang kawannya naik sepeda ke arah selatan. Kawan dia itu tampaknya bukan orang baik. Karena cemburu ketika suatu saat Gombloh menerima kebaikan dari orang lain, kawan Gombloh ini menurunkan paksa Gombloh di jalanan. Kawan itu pulang, Gombloh ditinggal di jalan, dan tak tahu jalan pulang.

Penduduk dusun sempat geger. Semua mencari informasi, memberitahu para kenalan supaya segera menghubungi jika melihat orang dengan ciri-ciri seperti Gombloh berjalan linglung tak tahu arah di jalan raya.

Karena suatu kejadian, Gombloh akhirnya dikenali dan dijemput pulang. Namun awalnya dia tidak mau pulang. Dia takut kalau pulang dipukuli oleh bapaknya. Untung ketakutannya tidak terjadi, karena bapaknya menangis terharu.

Ketika Gombloh kembali, makian dia makin sering didengar. Tiap hari, dan tidak hanya satu kali, Gombloh lewat depan rumah sambil marah-marah. Kalau di rumah sedang ada tamu, pasti tamu itu tampak kaget. Mereka bakal mengira sedang ada ribut-ribut di tempat tinggal kami.

Keluarga saya sebenarnya terganggu. Suara teriakan dan makian dia kadang mengganggu suasana yang sedang dibutuhkan di dalam rumah. Tapi mau bagaimana lagi, Gombloh tetaplah Gombloh.

Yang saya hampir yakin adalah dia tidak pernah melihat video atau melihat langsung seseorang yang disembelih di lehernya. Dia tidak pernah mendengar langsung teriakan ketakutan yang kemudian hilang, diganti suara darah yang muncrat dari leher orang itu.

Sadis? Iya. Mungkin sebagian dari anda sudah pernah melihat video-video semacam ini. Parahnya adalah gambaran ini yang selalu muncul dalam benak saya tiap Gombloh berteriak "Tak beleh!"

Namun saya berpikir, betapa beratnya hidup ini jika dikendalikan oleh omongan orang lain. Apalagi oleh omongan orang yang "pekok", "idiot", atau istilah lain yang lebih tepat untuk Gombloh. Jelas mereka tidak paham bagaimana kata-kata yang mereka umbar akan diberi makna buruk oleh banyak orang, dan bagaimana pemaknaan itu mempengaruhi hidup mereka.


Terimakasih, Gombloh, kamu sudah mengajari hal ini. Jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, tolong jangan sembelih aku.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain