18 September 2015

Umpatan adalah Pisuhan


Berpikir buruk: suudzon
Berpikir baik: husnudzon
Tidak berpikir: fadlizon

Pernah dengar plesetan ini?

Hinaan ini menjadi populer di media sosial setelah Fadli Zon turut hadir di acara bakal calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Trump Tower, New York, Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu. Tentu saja tindakan yang diambilnya ini membuat rakyat sangat kecewa. Selain karena ada sentimen kebencian terhadap negara adidaya ini, rakyat juga sensitif dengan agenda perjalanan luar negeri para anggota DPR yang menghabiskan duit hingga miliaran rupiah. Penggunaan anggaran dianggap tidak transparan, dan rakyat tidak langsung merasakan hasilnya.

Barangkali sebagian besar dari kita sudah telanjur yakin bahwa anggota DPR itu bodoh, tak bermoral, sok cerdas, sok pakai kata-kata tingkat tinggi, pemalas, penggila bokep, gampang disogok, serta keburukan lain  yang adalah seburuk-buruknya manusia. Sebajingan-bajingannya orang. Seasu-asunya manusia hidup. Namun teman-teman... kok menurut saya itu tidak lantas membuat kita berhak mengata-ngatai anggota DPR sesuka hati ya.

Betul bahwa kita bebas berpendapat. Betul bahwa kita juga bebas mengkritik siapapun, apalagi pejabat negara yang hidupnya kita tanggung (betapa pedenya kita!). Namun apakah kita nggak bosan tuh baca kata-kata pisuhan mengalir di mana-mana? Kata-kata keras dan umpatan-umpatan merendahkan lama-lama menjadi sangat biasa, terutama ketika ditulis di kolom komentar yang cuma seuprit. Netizen nulis hanya sekian kata atau sedikit kalimat, tapi kata-kata umpatannya udah beberapa kali disebut. Ya itu ungkapan kekesalan saja ya mungkin, tapi terus terang kita lama-lama juga perlu mengidentifikasi komentar macam itu sebagai sampah. Sampah yang tak lebih baik dari mereka yang dikritik.

Salah satu contoh yang menarik muncul belakangan ini. Pada Kamis (17/9) seorang reporter hai-online.com Yorgi Guzman menurunkan berita soal tulisan Fadli Zon tahun 1990 yang mengkritik musik metal, lirik, serta selera anak muda di jamannya yang dianggapnya latah. Saat itu Fadli Zon masih sekolah di SMA 31 Jakarta Timur.

Baca: Fadli Zon Mengkritik Musik Metal di Kolom Pembaca Majalah Hai

Saya ulangi sekali lagi, saat itu tahun 1990 dan Fadli Zon masih SMA. Kalau sekarang umur dia 44 tahun, tulisan itu dibikin ketika dia umur 19 tahun (umur segitu kalian ngapain, bung?). Hal ini tampaknya tidak begitu disadari oleh para komentator ulung di bawah berita itu. Mereka menolak keras pendapat Fadli Zon ini, seakan-akan Fadli Zon mengatakannya baru beberapa menit lalu dan berkapasitas sebagai Wakil Ketua DPR. Guys, mas, bos, bung, om, itu sudah 25 tahun yang lalu kali. Lagipula kalau dilihat secara objektif, tulisan itu juga opini yang disuarakan lewat media. Selain beropini itu seperti yang sering dibilang tadi (bebas—red), tulisan itu juga dimuat di media, artinya media tersebut juga punya misi yang ingin disampaikan lewat opini tersebut.

Maka, meskipun hanya plesetan saja, saya menolak kalau Fadli Zon itu disebut tidak berpikir. Menulis opini itu nggak mudah, apalagi untuk seusia anak SMA. Maksud saya, dia bisa berpikir, bung! Coba deh, kalau mau kita  bikin tulisan tandingan atas opini Fadli Zon tadi, tapi yang nulis adalah orang-orang yang komen pating ceblung tadi. Tulis yang panjang, pakai data dan contoh, bangun argumen yang rapi. Ah, bagaimanapun ini pasti nggak adil ya, karena tahun 1990  punya dinamika informasi yang sangat beda dengan tahun 2015.

Bukan, saya bukan mau membela Fadli Zon, ngapain juga saya bela. ‘Dosa’nya juga tidak berkurang walaupun dia sudah dicaci dengan kata apapun, karena apapun. Saya cuma resah aja sama keadaan ‘kebebasan berpendapat’ macam begini. Betul orang bebas berpendapat dan itu bagian dari demokrasi yang diimpi-impikan, tapi sebaiknya tingkatkan dulu kapasitas intelektual untuk mengungkapkan pendapat itu. Sekarang udah bukan jamannya lagi ngata-ngatain pejabat pakai kata-kata umpatan, itu sudah sejak jaman Gie jadi aktivis berpuluh-puluh tahun lampau. Sebaiknya sekarang saatnya mengeksplorasi ide, memperkaya istilah dan kosakata, ketangkasan membangun argumentasi, dan kecerdasan melahirkan solusi untuk menanggapi kebiadaban para pejabat ini.

Seperti yang dilakukan Endank Soekamti, misalnya, mereka melawan industri musik Indonesia tidak dengan frontal berhadap-hadapan dengan pelaku, tetapi dengan menciptakan pilihan lain alias menciptakan alternatif. Proyek alternatif seperti itu nggak akan bisa jalan kalau nggak punya kecerdasan yang cukup serta ketangguhan mental yang prima. Ikuti aja video-video mereka di Youtube, melelahkan bos!

Balik lagi ke tulisan Fadli Zon, banyak orang bilang dia tidak konsisten. Dari mana mereka memberi label itu? Dari tulisan Fadli Zon 25 tahun lampau dengan apa yang dia lakukan sekarang? Semoga bukan. Sebab kalau memang iya, betapa ndagelnya kita.

Masalahnya, 25 tahun itu waktu yang sangat memungkinkan bagi seseorang untuk berkembang. Gie, misalnya, selama masa remaja dan kuliah dia adalah orang yang sangat kritis. Namun beberapa bulan sebelum dia meninggal sehari sebelum ulang tahun ke 27, dia menulis bahwa dirinya sudah berubah, tak lagi seperti dulu. Marx juga begitu, tulisan Marx Muda dan Marx Tua juga punya perbedaan yang tajam. Barangkali kedua tokoh ini nggak sebanding dengan Fadli Zon, ya? Baiklah, tapi poin yang ingin saya tuju adalah orang sangat mungkin mengalami perkembangan pikiran dalam waktu sekian tahun. Soal berkembangnya ke arah mana, itu soal lain lagi. Barangkali itu juga yang terjadi pada Fadli Zon.

Untuk menutup tulisan ini, saya sekadar mengingatkan diri sendiri dan anda semua untuk rajin membaca, rajin berpikir, berdiskusi, dan jangan lupa mengendapkan rasa dan pikiran yang melayang-layang. Umpatan dan kata kasar tak akan mengubah anggota DPR dan tak akan membuat rakyat makmur. Percayalah. Mari mulai melatih diri sendiri untuk jadi orang pintar berbuat, bukan mengumpat saja. 

Sekali lagi, saya tak membela Fadli Zon, hanya memberikan alternatif pandangan lain yang lebih jernih saja soal tulisan dia dan tulisan kebanyakan dari kita.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain