22 February 2015

Dolan Hemat

Foto: bapak pemilik warung
Dengar-dengar, ketersediaan waktu luang adalah salah satu indikator tingkat kebahagiaan. Kami menyebutnya dengan ‘sela’, sedangkan mereka  yang memiliki waktu (terlalu) luang adalah ‘bocah sela.’  Entah harus bangga atau tidak, saya rasa saya bagian dari mereka itu. *tepuk dada*
Acara mendadak dikabarkan ke saya pada suatu pagi. Teman-teman saya mau dolan hemat ke arah selatan dari Jogja. Nama resminya Bantul, nama kerennya Jogja Selatan. Mereka rencana berangkat pukul 10, sedangkan saya menyusul berangkat pukul 12. Yulia datang jauh-jauh dari Sala, naik kereta pukul 10.55, hanya untuk ikut bergabung.

“Posisi di mana?” tanya saya lewat aplikasi obrolan.
“Kami jalan ke arah Goa Langse,” jawab Dicky.

Perjalanan dari Jogja ke Parangtritis memaksa kami mampir makan di sebuah warung masakan Padang dekat Pantai Parangtritis. Udara lembab dan aroma asin air pantai sudah mulai tercium di hidung kami. Entah kenapa tidak sedikitpun terbesit keinginan di benak saya untuk mampir ke pantai tersohor itu. Mungkin karena waktu itu siang hari, sekitar pukul 13, ketika matahari tepat di atas kepala. Atau mungkin juga kami lebih senang main ke gunung daripada pantai. Kami hanya melewati pantai itu saja, lalu pergi ke tebing untuk melihat Parangtritis dari atas.

Dari Parangtritis luruuus saja, kita akan disuguhi pemandangan belasan atau puluhan losmen untuk menginap. Biasanya dituliskan “ada kamar kosong” serta fasilitas yang ada di dalamnya. Losmen itu untuk menginap dan mungkin ‘menginap’ bagi pasangan muda mudi yang sedang bergairah. Siapakah yang bisa menolak kenikmatan bercinta kala muda dengan pemandangan pantai? Gairah anak muda seakan dipertemukan dengan energi dari laut yang tak kunjung habis.

Tanjakan demi tanjakan bisa dilalui Supra yang saya pakai sejak 2006. Akhirnya motor itu menyerah pada tanjakan terakhir yang memang tidak bersahabat untuk orang-orang berbeban berat seperti saya. Sampai di atas, ternyata mereka sudah ingin cabut dari sekitar Goa Langse. “Teman-teman kepanasan,” kata Dicky.

Kami akhirnya bergabung di rombongan, ada enam sepeda motor termasuk saya. Kami lalu turun mencari tempat untuk duduk yang nyaman untuk melepas dahaga. Turun tidak terlalu jauh, kami lalu naik lagi untuk datang ke tempat yang tidak kalah bagusnya untuk melihat pantai Parangtritis dari atas. Di sana kami pesan air kelapa muda, harganya Rp10 ribu. Saya tidak tahu nama tempat itu, tapi kira-kira pemandangan losmen yang ditawarkan ke kami masih mendominasi. Begini pemandangan dari atas sana.


Tebing, pantai, laut, dan gubug nganu. Diambil pakai mode panorama.
Foto: pribadi








Di tebing sebelah kiri itu kita bisa lihat ada orang-orang yang main parasut. Saya kira hanya orang-orang bernyali saja yang mau naik itu. Selain bernyali juga berduit, atau sengaja menganggarkan, untuk bisa naik payung besar itu. Kata teman-teman, sekali naik seorang harus membayar Rp400 ribu. Saya lirik uang di dompet. Hanya untuk memegang tali parasut pun uangku tak cukup. Baiklah, kata-kata yang ini memang berlebihan. -.-

Lurus di depan ada Pantai Parangtritis yang—baru saya sadari—garis pantainya panjang sekali. Di dekat garis pantai itu ada payung-payung yang disewakan untuk berteduh para pengunjung. Sesekali terlihat kereta kuda yang terlihat kecil dari atas melintas perlahan menyusuri pasir pantai. Ketika saya masih kecil, rasanya Parangtritis dipenuhi dengan kereta semacam itu. Sekarang, kereta kuda itu bersaing dengan ATV, sepeda motor beroda empat besar-besar.

Ketika mengalihkan pemandangan agak ke atas, kami melihat garis cakrawala. Benar-benar lurus dari ujung tebing sebelah kiri, hingga habis dibatasi tolehan kami ke arah kanan. Di bawahnya adalah air laut yang agung sekali. Warnanya agak gelap di tengah-tengah, lalu menerang ke arah pantai. Tidak tahu benar atau tidak, dengar-dengar perbedaan warna itu menunjukkan perbedaan tingkat kedalaman laut.

..sementara angin pantai masih menerpa wajah kami berdelapan..

Sepasang anak muda, perempuan dan laki-laki, diantar oleh pemilik warung untuk turun ke gubug-gubug kecil tepat di depan kami. Hanya beberapa meter saja ke bawah turun ke tebing yang landai. Di foto itu kan terlihat ada banyak gubug dari gedheg (anyaman bambu) berukuran sekitar 1,5 x 2 x 1,5 meter. Semua gubuk itu tertutup dari samping, belakang, dan (tentu saja) atas. Semua menghadap ke arah laut.

Pertanyaan kami pun terjawab. Awalnya kami tidak tahu, untuk apa gubug-gubug itu didirikan di sini? Awalnya saya kira untuk menjemur rumput laut atau apa, tapi kan jaraknya agak jauh dari pantai. Ah, ternyata mereka digunakan untuk menikmati pemandangan pantai dari atas dengan lebih eksklusif. Begitu eksklusifnya  hingga apapun yang dilakukan pasangan itu tidak akan terlihat, kecuali dari depan. Namun, bukankah mereka hanya mau menikmati pemandangan pantai? Iyalah. Memang mau ngapain lagi?


Lalu datang lagi pasangan untuk diantar ke sana oleh pemilik warung. Mbak-mbak berjilbab dan seorang laki-laki, semuanya masih muda, menuruni tebing perlahan untuk menuju salah satu gubug. Kami semua terdiam. Kami makin yakin para pasangan muda itu memang mau menikmati pemandangan pantai dari atas. Sudah, itu saja yang mereka lakukan. Ha mbok yakin..

Teman SMA, teman ngobrol, teman berdebat, teman menangis, teman tertawa.
Selalu jadi teman bernafas untuk tetap hidup.
Foto: Dicky
Setelah sekitar beberapa jam duduk di sana, kami memutuskan untuk cabut dan kembali ke Jogja. Tak lupa, karena sudah di bagian selatan, kami mampir di Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran. Sebagian berdoa di dekat candi, sebagian mandi tanpa sabunan dan handuk di kamar mandi, sebagian merokok di luar tempat doa. Sepanjang obrolan kami sambil melihat pantai tadi, sebagian di antara kami berencana naik gunung di pertengahan Maret. Lalu kisah ini akan terus berlanjut.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain