26 August 2015

Bom Thailand di Kepungan Komunikasi* ala FPI** dan Cingkim Netizen

Sore kemarin saya agak terkejut ketika sedang scrolling Facebook. Seorang teman kuliah membagikan tautan dari akun Facebook bernama “Front Pembela Islam – FPI” yang menulis soal pelaku bom di Kuil Erawan, Bangkok, Thailand, yang sudah tertangkap. Menurut postingan akun tersebut, pelaku ternyata adalah warga Amerika Serikat beragama Kristen.
Foto yang digunakan akun "FPI" dalam status tersebut.
Status akun Front Pembela Islam - FPI
Pelaku Bom Thailand ternyata warga USA beragama Kristen. Kenapa media tidak menyebutkan sebagai Teroris?? Bahkan beritanya di tutupi.. Bagaimana jika pelaku beragama islam???
أَسْتَغفِرُاللهَ الْعَظيِمْ
(1,739 orang menyukai statusnya. Sedangkan  1,014 sudah menshare)

:: Lihat Media Mainstream
Sekarang mari kita bandingkan dengan beberapa pemberitaan terakhir soal isu ini dari media-media online mainstream di Indonesia.
Republika Online memberitakan kepolisian Thailand yang mengakui kewalahan mencari pelaku utama bom tersebut [berita]. Salah satu yang bikin mereka kewalahan adalah karena ada dugaan bahwa setelah melakukan pemboman itu pelaku langsung kabur keluar dari Thailand [berita]. Bahkan Kepala Polisi Thailand Somyot Poompanmoung sudah mengeluarkan pernyataan kemungkinan pelaku sudah melarikan diri. Pernyataan ini dianggap sebagai upaya menurunkan harapan publik akan tertangkapnya pelaku dalam waktu dekat [berita].
Senada dengan media sebelumnya, Kompas.com juga mencatat bahwa Kepolisian Thailand mengakui bahwa penyelidikan serangan bom di Kuil Erawan tersebut tidak mencatat banyak kemajuan [berita]. Penyelidikan sempat dilakukan oleh kepolisian dengan upaya mencari seorang pria berpaspor Turki. Pekerja hotel tak pernah melihat, pengurus masjid melihat tapi mengaku pria itu tak pernah datang ke masjid, sedangkan pengemudi ojek yakin pernah mengantarkan pria tersebut [berita].
Sedangkan Okezone.com membuat judul berita dengan lebih progresif, mereka memberitakan bahwa identitas pelaku utama bom Bangkok sudah terungkap. Mereka memberitakan ciri-ciri pelaku tersebut sesuai dengan seorang tamu yang pernah menginap di Niagara Hotel. Nama tamu itu Mohamad Museyin. Namun mengetahui informasi soal identitas saja tak cukup bagi polisi karena keberadaan pelaku masih harus terus dilacak [berita].
Satu benang merah yang sama jika melihat pemberitaan ketiga media mainstream tersebut adalah pelaku bom Thailand belum ditangkap. Lalu bagaimana bisa akun Facebook tersebut memposting status yang demikian? Media manakah yang menjadi rujukannya? Atau akun tersebut punya wartawan sendiri yang datang ke sana?

:: Komentar  yang Terbakar
Pertanyaan itu belum terjawab. Namun kita pasti penasaran dengan komentar para netizen yang kadang bijak, kadang cuek (cuek kok komentar), dan kadang cingkimin saja.
Ini beberapa komentar yang langsung terbakar begitu saja.
SholehuddinTERORIS itu kan cuman gelar tuduhan saja.... Kalangan kristen kan pling pinter menuduh orng lain,jadi gelar itu melekat pd kaum muslim. Sedangkn muslim gmpang emosi&gmpang diprovokasi sehingga terjadilah tindak kekerasan.maka gelar itu melekat sndri pd umat muslim... Maka bersabar dn berjuang sprti yg dcontohkn Rosul (29 likes)
Muhmmad Yusuf | Udah jelas sekarang. Mereka memang benci Islam. Maha Benar Allah dengan segala firman Nya. (11 likes)
Candhuah Candhuah | semua yg namanya teroris saat ini adalah propaganda amerika dan zionis israel, semua adalah bentukan mereka, termasuk ISIS, dan target mereka adalah penghancuran ISLAM di seluruh dunia (32 likes)
Reza Pratama | GIDI aja teroris ko cma dibilang amuk warga, jlas2 tu si monyet pimpinan GIDI yg mnandatangani prencanaan dbalik smua pmbakaran masjid. maklum, minoritas kan dlindungi nama baiknya, tp jgn anggap mayoritas bkal tinggal diam
ZaenalAryan Baewah | semkin terbukti kbhongan2,kmunafikan2, kmbing hitam tragedi2 yg memojokkan islam, teroris itu 100% bukan islam karena teroris bukan ajaran islam
Andie Coekisantoro | Taqqiya! Beritamu kok tidak ada di Google? Oh Google punya yahudi!
Azizan Atha Virgiawan | kristen adalah teroris yg sesungguhnya
Adrian Rahman | Biasanya kan yg suka ngecap itu ORANG KRISTEN... Wajar mereka kan semakin terpojok
Ringkasnya, saya menganggap komentator ini sudah begitu bencinya dengan Amerika Serikat, Yahudi, kaum Nasrani, dan media yang dianggap mendukung kinerja mereka. Para komentator ini menganggap bahwa Islam dan penganutnya adalah kambing hitam atas tiap kejadian terorisme di dunia. Tak lain tak bukan, tujuan akhir Amerika Serikat dan iblis-iblisnya itu adalah untuk menghancurkan Islam di seluruh penjuru dunia.
Saya sendiri sih tidak terlalu peduli dengan pandangan macam itu. Meski harus diakui, kadang-kadang hati tergetar juga ketika mereka-mereka  yang tidak tahu itu lalu menjelek-jelekkan ajaran Kristen.
Hal yang ingin saya tekankan adalah barangkali kebencian mereka terhadap “musuh-musuh Islam” itu menghapus kemampuan mereka untuk googling barang sejenak untuk melihat perkembangan kasus tersebut dari media-media lain. Sikap bermedia para netizen, yang sudah mahir menggunakan internet dan rajin berkoar-koar sana sini, patut untuk membuat kita prihatin. Sampai kapan kita jadi manusia macam sumbu pendek macam begini? Sulut-bakar-letus, terus-terusan begitu.

:: Komentar yang Lebih Netral
Tapi tidak semuanya begitu juga. Di antara jerami-jerami itu ada beberapa jarum emas yang tak berkilau karena terserap debu jerami.
Syam UL | Emg yakin ini pelakunya mas... saya baru baca berita.. pemerintah thailand masih kesulitan menangkap pelaku pengeboman.. coba di cermati dulu... atau lebih tau dulu beritanya kayak apa.m
Lyonnel Navarro | Lhoo bukannya ini salah tangkap?? Lahh pusing...
Abi Mas Muis | Aku aj baru baca surat kabar sedangkan pemerinta thailand kesulitan mengesan pelaku kok ud muncul kolom fpi gk salah ni.
Nafi' Widya Rahman | konyol , tersangkanya aja blm ketemu
Kalau saya boleh menerka, mereka yang berkomentar demikian ini sudah membaca berita-berita lain dari media mainstream—seperti yang saya lakukan di atas. Kalau boleh jujur, ini bukanlah sebuah nilai tambah bagi setiap warga (dan netizen) dalam bermedia. Dengan kata lain, memang seharusnya kita ini begitu. 
Jangan mudah percaya dan terprovokasi ketika melihat sebuah informasi, apalagi dari akun yang kita tahu beraliran fundamentalis. Percaya saja jangan, apalagi turut berkomentar dan mereproduksi kebencian yang tak akan membangun apa-apa itu.
Mari kita lihat lagi, isu apa yang kelak dimainkan oleh pelaku-pelaku kebencian ini.


______
*) Saya sebenarnya ragu menggunakan istilah ‘komunikasi’ karena apakah dengan menyampaikan pesan yang kemudian diterima pendengar dan menyampaikan umpan balik, itu namanya ‘komunikasi’? Bagaimana bila istilah itu dipertukarkan dengan kata ‘fitnah’ atau ‘propaganda busuk’ atau istilah lain yang lebih menunjukkan ketidaknetralan dari tindakan mengirim-menerima pesan..
**) Saya juga tidak yakin untuk mengecap apakah akun Facebook “Front Pembela Islam – FPI” ini adalah akun resmi organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) itu atau bukan.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain