09 August 2015

Menyoal Berita NasionalTimes


Ketika membaca media online yang bukan media mainstream, biasanya saya hanya lewat saja tanpa pikir-pikir lagi. Apalagi kalau judul dan beritanya terkesan ngawur atau provokatif. Namun kali ini hasrat kepo saya atas sebuah media online tak tertahankan lagi, membuncah dan harus segera dilahap. Demikianlah kisahnya.

Nama medianya bagus dan terkesan profesional: NasionalTimes. Di dalam laman ‘About Us’ dituliskan bahwa mereka ‘..mewarnai jagat pemberitaan online, memberikan konten berita terupdate dan terpercaya..’ untuk meyakinkan pembaca soal kredibilitas. Tak cukup dengan itu, mereka meyakinkan pembaca lagi bahwa tim mereka ‘..terdiri atas praktisi muda yang kompeten dalam bidang jurnalistik..’ Maka tak diragukan lagi, ini adalah situs berita online. Kan begitu.

Baik. Mari kita lihat produk beritanya.

Ada dua berita yang menarik bagi saya. Pertama, berita berjudul ‘FBI: 94% SeranganTeroris Pelakunya Bukan Orang Islam’ yang jadi pilihan saya. Berita ini menarik karena menepis sebagian besar anggapan masyarakat Barat soal orang Islam yang diasosiasikan dengan pelaku aksi terorisme di berbagai belahan bumi.

Kita tentu pernah dengar istilah ‘Islamophobia’ untuk menyebut kondisi ketakutan masyarakat Barat terhadap orang Islam. Berbagai kalangan menyalahkan media karena telah turut menebarkan ketakutan ini di benak masyarakat. Media yang begini ini disebut sebagai ‘media sekuler’ yang memang berniat menjatuhkan nama baik agama mayoritas di Indonesia ini.

Kita kaji dari sisi judulnya dulu.

Dari penggunaan imbuhan –nya untuk kata Pelaku, bisa diduga penulis ini terinspirasi bahasa Jawa—demikian juga saya. Andreas Harsono pernah mengatakan soal ini dalam tulisan-tulisannya. Di bahasa Jawa sering digunakan imbuhan –e untuk menyebut banyak maksud. Kedua imbuhan ini yang lalu seringkali dianggap sama dan dapat digunakan seenak hati. Maka, ‘..Serangan Teroris Pelakunya..’ lebih baik diganti dengan ‘..Pelaku Serangan Teroris..’

Ada lagi yang janggal? Ada. Terorisme adalah paham, sedangkan pelakunya adalah teroris. Nah, kalau ‘Pelaku Serangan Teroris’ lantas bagaimana? Barangkali maksudnya adalah ‘Pelaku Serangan Terorisme’ atau ‘94% Teroris Bukan Orang Islam’ begitu.

Itu kritikan saya soal judul. Namun sebenarnya berita ini menawarkan sesuatu yang cukup baik untuk kita kenal, yaitu jurnalisme presisi. Intinya jurnalisme presisi ini mendasarkan fakta yang diberitakan pada hasil-hasil riset yang dilakukan oleh pihak tertentu. Karena hasil riset ilmiah, asumsinya adalah sudah pasti benar, objektif, dan dapat dipercaya.

Mereka membagikan data-data berupa angka, berapa persen serangan terorisme yang dilakukan oleh orang Islam dan kelompok-kelompok lain. Disebutkan bahwa sejak tahun 1980-2005 serangan terorisme yang dilakukan oleh ekstrimis Islam hanya 6 persen saja. Angka ini tergolong rendah bila dibandingkan ‘wilayah Latin’ (saya tak paham maksudnya) yang mencapai 42 persen, kelompok ekstrim kiri 24 persen, dan sebagainya.

Bahkan, dalam berita ini dicantumkan dua tabel dan satu bagan untuk mempermudah pembaca melihat perbandingan yang ada. Ini kan khas jurnalisme presisi. Cobalah lihat Harian Kompas tiap hari Senin; mereka adalah contoh yang baik soal jurnalisme yang satu ini.

Bukankah itu bagus? Ya, bagus. Mereka menghadirkan nuansa baru di tengah ratusan media online abal-abal yang hanya bisa copy paste dan memuat hasutan sana sini. Menghadirkan data yang komplit dan banyak adalah upaya yang bagus untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’—sebagaimana tertuang dalam visi pertama situs berita online ini.

Namun tunggu dulu, sebagai orang kepo, kita harus cari tahu dari mana mereka dapat data  ini?

Syukurlah mereka cukup terbuka soal ini. Ada dua sumber data yang mereka ajukan kepada kita. Pertama, dua tabel ini didapat dari laporan tahunan yang dirilis oleh Europol tahun 2006. Saya googling dan membuka situs resmi Europol. Langsung saya menemukan apa yang saya cari, laporan tahunan Europol tahun 2006 yang dirilis setahun sesudahnya. Namun sayang sekali, barangkali saya yang tidak teliti, saya gagal menemukan data-data yang direferensikan dalam berita itu.

Kedua, kita intip situs yang sering mereka gunakan sebagai referensi.

Dalam berita tersebut mereka mengaku mendapatkan data dari situs loonwatch.com—belakangan saya tahu kalau situs ini sering mereka gunakan untuk referensi data. Setelah saya baca, konten yang ada di situs ini sangat menarik. Namun apa artinya loon? Situs MerriamWebster menyebutkan “loon (noun)” sebagai [1] a person judged to be legally or medically insane; [2] a stupid person.

Pemilik situs ini cukup serius dalam menciptakan eksistensi dirinya di dunia maya. Mereka punya situs, laman Facebook, akun Twitter, dan siaran Youtube. Dengan kata lain, mereka benar-benar memanfaatkan media baru untuk membentuk diri mereka, untuk menyatakan bahwa di dunia maya ini mereka ada.

Ada yang menarik soal tagline yang mereka berikan. Ketika Kompas punya “Amanat Hati Nurani Rakyat” dan Tempo punya “Enak Dibaca dan Perlu”, loonwatch.com punya “the mooslims! they’re heeere!Tagline tersebut berada di samping seorang yang terlihat berteriak, mata terbuka lebar, dan berekspresi ketakutan.

Rupanya ini memang semangat mereka, yang tertuang dalam deskripsi di laman Facebook. Begini bunyinya:

[tanda kutip]
Loonwatch.com is a blogzine run by a motley group of hate-allergic bloggers to monitor and expose the web’s plethora of anti-Muslim loons, wackos, and conspiracy theorists.

While we find the sheer stupidity and outrageousness of the loons to be a source of invaluable comedy, we also recognize the seriousness of the danger they represent as dedicated hatemongers. And so, while our style reflects our bemusement, our content is fact checked and our sources well vetted making sure loonwatch.com is a reliable educational - if entertaining - resource on the rambunctious underworld of Muslim-bashing.
[tanda kutip]

Setelah membaca deskripsi ini, apa sikap anda terhadap kebenaran informasi yang disampaikan loonwatch.com—yang kemudian direproduksi oleh NasionalTimes?

Biarlah pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban dari saya. Kalau anda berkenan menjawab, saya akan dengan senang hati duduk mendengar, mencatat, dan memahami gagasan anda soal ini.

Lanjut ke berita selanjutnya. Berita kedua yang saya amati berjudul “Dahulu Membantai Umat Islam, Kini Myanmar Tertimpa Bencana Banjir Besar 50 Tewas” http://www.nasionaltimes.com/2015/08/04/dahulu-membantai-umat-islam-kini-myanmar-tertimpa-bencana-banjir-besar-50-tewas/479.html

Terus terang saya sudah lelah, dan tidak cukup menganggarkan waktu, untuk menelusuri lebih jauh berita ini. Namun dilihat dari judulnya saja kita sudah bisa menangkap kesan yang muncul. Entah saya yang menginterpretasi secara berbeda atau bagaimana ya. Setahu saya kata “Dahulu” dan “Kini” sering digunakan untuk menunjukkan dimensi waktu. Seringkali juga digunakan untuk menunjukkan perbedaan/perubahan/kontradiksi. Misalnya, “Dahulu aku membencimu, kini kau tergila-gila mencintaiku.”

Dalam judul ini, kesan yang saya tangkap adalah soal kasualitas alias sebab-akibat. “Dahulu” dan “Kini” bukan lagi soal waktu, bukan lagi soal perubahan, tapi soal penyebab. Maka yang saya tangkap adalah “Karena membantai umat Islam, Myanmar dilanda banjir bla bla bla..”

Ah, barangkali saya saja yang keliru menginterpretasi. Bagaimana mungkin para tim redaksi yang “kompeten dalam bidang jurnalistik” dengan sengaja membuat judul berita yang—kalau boleh saya katakan—provokatif?

Katakanlah saya keliru, berati banyak orang juga keliru dengan saya. Buktinya? Mereka, para akun-akun media sosial ini, berkomentar di bawah berita. Begini bunyi komentarnya:

Pa*nut Ishak
Murka dan laknat Allah baru turun untuk negara yang membantai umat islam [dapat 23 likes]

Ja*ilah Munir
Azab Allah itu pasti turun, jika suatu kaum sudah melakukan kejahatan, dan jangan lupa baca sejarah,  bagaimana Allah juga menimpakan azab bagi kaum yang engkar dan merusak. Maha benar Allah dengan firman Nya [dapat 16 likes]

*erlina Lina
itu,,,,belum sebrpa,,,masih ada yg lebih dahsyat lagi,,,,,
ALLAH yg maha kuasa,,, [dapat 15 likes]

Lihat kan? Betapa judul bisa memantik orang untuk berkomentar macam-macam? Padahal kalau kita lihat isi beritanya, tidak ada sedikitpun yang menyinggung soal pembantaian orang Islam di Myanmar beberapa saat lalu. Saya sendiri turut bersedih—dan hanya bisa begitu—mendengar cerita pembantaian orang Islam di Myanmar. Namun ketika isu ini diletakkan dalam judul, dengan konten berita yang berbeda sama sekali, bukankah kita bisa dengan mudah mencerna ini sebagai tindakan provokatif dari tim redaksi?

Bukan hanya itu saja, para pembaca yang baik.. rupanya saya juga menemukan berita yang sama persis, yaitu berita yang diterbitkan oleh CNN Indonesia dengan berita berjudul “Dilanda Banjir, Myanmar Terancam Wabah Penyakit

Ada beberapa kemungkinan yang bisa kita ambil. Pertama, penulis berita itu adalah wartawan yang sama, dia bekerja di dua media sekaligus. Kedua, CNN Indonesia melakukan plagiasi terhadap Nasional Times. Ketiga, NasionalTimes melakukan plagiasi terhadap CNN Indonesia.

Sekadar informasi saja, berita yang di CNN Indonesia ditulis oleh Amanda Puspita Sari. Sedangkan yang di NasionalTimes ditulis oleh Mutia Al Faris. Keduanya sama-sama ditulis tanggal 4 Agustus 2015.

Andaikan kita punya dua penulis berita yang berbeda, mana dari antara mereka yang melakukan plagiasi? Media mana yang beritanya hanya modal “salin-tempel” saja tanpa ada proses kerja jurnalistik yang memadahi?

Lagi-lagi, saya akan membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa saya jawab. Barangkali anda berpikir kalau tulisan ini tendensius; penulisnya tak memberikan jawaban langsung tapi menyusun fakta-fakta untuk mengarah ke kesimpulan yang sama. Biarlah begitu saja.

Pesan moralnya, pilihlah bacaan yang berkualitas. Bukan hanya media mainstream seperti Kompas dan Tempo saja, tetapi juga situs online yang dikelola komunitas warga. Namun pastikan dulu situs-situs yang anda baca memang berkualitas, gunakan seluruh intuisi dan kemampuan me-ngepo anda. Pastikan anda tak menyia-nyiakan talenta itu.

1 comment:

Baca Tulisan Lain