19 August 2014

Surat Terbuka versus Akun Robot

Sumber: www.skanaa.com
Pesta demokrasi terbesar yang digelar pekan depan membuat wacana publik menjadi riuh dan cenderung rusuh. Beberapa minggu ini publik dipaksa mengonsumsi kampanye negatif hingga kampanye hitam. Belum ditambah dengan komentar-komentar ‘asal bunyi’ dari akun-akun sosial media pendukung salah satu calon presiden (capres).

Amati saja aktivitas di sosial media, atau pada forum-forum obrolan di ponsel pintar masing-masing. Banyak model kampanye muncul dengan mengunggulkan capres pilihannya atau menjatuhkan capres yang lain. Mulai dari membagikan tautan berita dan dokumen, menuliskan kata-kata hinaan yang sangat provokatif, hingga memasang foto capres dengan ditambahi kata-kata bernada humor atau sering disebut meme.

Hinaan kepada capres nomor satu biasanya tentang rumah tangga dan kejahatan kemanusiaan pada masa lalu. Sedangkan kepada capres nomor dua biasanya tentang kekurangan fisik dan pelanggaran sumpah jabatan. Meski keduanya beragama Islam, isu agama rupa-rupanya juga tetap menjadi senjata untuk melancarkan serangan satu sama lain. Kampanye penuh hinaan macam ini tampaknya menghentikan hasrat publik untuk berargumentasi. Publik lebih tampak seperti saling balas menghina, hingga lupa bicara hal-hal yang lebih esensial dalam gelaran pemilihan presiden.

Masalah menjadi bertambah runyam ketika Indeks Digital memublikasikan pantauannya di Jakarta. Menurut mereka, puluhan ribu ‘akun robot’ muncul tiap hari di Twitter. Akun robot ini jumlahnya ribuan dan bisa jadi hanya dikelola beberapa orang saja. Pada tanggal 18 dan 19 Juni 2014 fluktuasi penciptaan akun robot mencapai titik tertinggi, 50 ribu lebih akun robot diciptakan pada dua hari itu. Akun robot tersebut bertugas berkicau tentang capres dukungan dan capres lawan.

Beruntung, akhirnya kita mendapatkan sedikit angin segar mendekati masa akhir kampanye ini. Muncul surat-surat terbuka kepada capres (pejabat di sekeliling capres) yang isinya relatif lebih bermakna, lebih jelas pengirimnya, berbahasa lebih santun, dan terpenting: lebih argumentatif. Jika dibandingkan dengan komentar-komentar singkat di sosial media, surat terbuka rasanya lebih menawarkan argumentasi yang bisa membantu mencerahkan publik.

Surat terbuka pada masa pemilihan calon presiden muncul ketika A. S. Laksana menulis surat kritikan yang tajam kepada Amien Rais. Lalu surat dari Tasniem Fauzia, putri Amien Rais, kepada Capres Jokowi.  Dia meminta Jokowi tidak perlu membalas suratnya, capres nomor dua itu hanya diminta merenungkan pertanyaan yang diajukan. Kabarnya surat itu dibalas dua orang yang berbeda.

Surat tersebut disusul dengan surat lain yang berlalu lalang di hadapan publik. Hingga saat artikel ini ditulis, surat yang sedang ramai dibicarakan publik adalah surat terbuka yang ditulis Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Frans Magnis Suseno, SJ, kepada Capres Prabowo. Dia mengkritik tentang ideologi Islam garis keras yang berada di belakang Capres Prabowo.

Memantau Deliberasi
Menurut penulis, segala bentuk kampanye, kritik, perdebatan, pembuatan akun robot, hingga penulisan surat terbuka tadi perlu diletakkan dalam kerangka pemilihan presiden. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bila fenomena ini dipandang sebagai wujud partisipasi politik warga dalam negara demokrasi. Masalahnya, seberapa baik kualitas demokrasi kita?

Penulis menawarkan salah satu kacamata untuk mengukur seberapa baik kualitas demokrasi kita. Kualitas percakapan atau ‘deliberasi’, meminjam istilah filsuf Jurgen Habermas, adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam negara demokrasi. Melalui pemantauan deliberasi, penulis mengajak publik untuk memaknai demokrasi sebagai konsep yang bisa direfleksikan dalam kegiatan-kegiatan kecil seperti berkomunikasi lewat media sosial.

Cook, Carpini, dan Jacobs (2007) menuliskan tiga prinsip mengenai deliberasi. Pertama, deliberasi adalah alat untuk mendidik warga. Kedua, deliberasi adalah alat membangun moral warga. Ketiga, deliberasi dipandang sebagai cara untuk mencapai keputusan bersama.

Dalam konteks berdemokrasi, pendidikan harus membentuk warga yang literate, warga yang melek. Salah satu prasyarat untuk memenuhi tujuan tersebut adalah warga harus memiliki basis informasi yang sahih dan berasal dari institusi yang kredibel. Warga juga memiliki sikap kritis ketika bersikap terhadap informasi yang tidak jelas atau bahkan keliru.

Moral warga juga dapat dibangun dalam diskusi dan perdebatan di dalam ruang publik. Tentu saja kita perlu sepakat, diskusi yang membentuk moral warga adalah diskusi yang bertanggungjawab. Artinya, diskusi dibangun dengan data dan informasi yang sahih. Dalam diskusi, warga juga dilatih untuk sadar bahwa mereka masing-masing berbeda dalam berbagai hal. Perlu ada toleransi dan kerelaan memberi tempat bagi orang lain untuk menyampaikan pendapat dalam forum diskusi.

Republik ini, secara politis, mengenal frasa ‘musyawarah untuk mencapai mufakat.’ Pengertian tersebut sering disejajarkan dengan proses deliberasi untuk mencapai sebuah keputusan melalui konsensus. Namun, dalam konteks tulisan ini, keputusan adalah hal yang perlu dipikirkan nanti setelah publik memastikan dirinya memiliki kualitas demokrasi dan deliberasi yang cukup memadahi.

Surat Terbuka
Dari berbagai bentuk partisipasi publik lewat media sosial, penulis melihat potensi yang paling baik pada penulisan surat terbuka. Dibandingkan dengan komentar-komentar dari akun media sosial, surat terbuka biasanya ditulis dengan lebih panjang. Sesungguhnya bukan masalah panjang tulisan, tapi melalui surat tersebut ide dan maksud dari si penulis surat lebih bisa dijelaskan dengan lebih lengkap kepada publik. Dari situ publik juga dapat menilai apakah dalil dan data yang digunakan oleh si penulis cukup kuat untuk membentuk persepsi publik tentang suatu isu.

Alasan yang lain adalah surat terbuka menyangkut kredibilitas penulisnya karena mencantumkan nama pengirim. Misalnya, surat terbuka yang ditulis oleh pemimpin agama sekaligus seorang guru besar. Meskipun dia menulis dalam kapasitas sebagai pribadi, publik akan tetap menilai sosok itu sebagai representasi kelompok akademisi dan penganut agama tertentu. Dengan beban sedemikian besar, sulit dibayangkan kualitas tulisan surat terbuka hanya sama dengan tulisan akun-akun robot. Dalam hal ini, tanggungjawab dan keterbukaan menjadi kelebihan mutlak yang dimiliki surat terbuka.

Pesatnya perkembangan teknologi internet memang menjadi tantangan tersendiri bagi publik. Kita harus pandai dan bijak memilih informasi mana yang sahih sehingga dapat kita gunakan untuk menambah wacana yang diperlukan dalam publik. Penulis hanya berharap, setelah ini akan lebih banyak bermunculan surat terbuka daripada komentar-komentar singkat yang usang dan minim argumentasi di media sosial. Selamat berdemokrasi!


--dikarang di kota yogyakarta, 3 Juli 2014--

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain