14 October 2015

Omong Kosong dan Kepedulian Kita

via www.multiraedt.nl
Media sosial itu layaknya pemutar musik. Ketika kita buka, kita menyalakan tombol “Play”—seketika riuh terjadi. Ketika kita menutupnya, tombol “Stop” lah yang kita tekan. Barangkali tidak  hening, tapi kita akan dengar suara lain selain musik.

Kemarin (13/10) beberapa kawan di media sosial membagikan hashtag #NoBraDay di akun mereka. Entah harus disebut dengan apa: perayaan, peringatan, gerakan, solidaritas, kampanye, atau apa?

Aksi No Bra Day mulai dilakukan tahun 2011 di Amerika Serikat sana. Penggagas aksi mengajak para perempuan untuk tak mengenakan bra dalam sehari itu.

CNN Indonesia menyebut ini sebagai aksi solidaritas terhadap penderita kanker payudara. Senada, Kompas.com menuliskan salah satu tujuannya untuk memberikan semangat kepada breast cancer survivor di seluruh dunia.

Lalu sampailah di Indonesia, negeri yang sering tak percaya diri. Kutip kultur sana sini agar dibilang modern. Bahasa Jermannya, melu-melu. Kawan-kawan rupanya tak luput terkena virus itu—barangkali saya juga begitu.

Ada yang share gambar dan menuliskan kata-kata yang masih netral. Ini masih bisa diterima. Ada juga yang nulis agak porno. Ini juga bisa diterima meski meleset. Namun yang paling aneh adalah ada yang sedikit curhat bilang betapa nyamannya lepas bra. Ya, itu di media sosial.

Istilahnya, dia pengin ditanya banget. Efektif sih. Beberapa laki-laki lalu nimbrung tanya—barangkali sambil membayangkan.

Sudahlah, lupakan akun itu. Kita kembali ke No Bra Day saja.

Adakah kaitan antara lepas bra dengan kanker? Benar bahwa ukuran bra yang terlalu sempit (/ketat) tidak baik untuk kesehatan payudara. Ada riset yang menunjukkan keterkaitan antara mereka. Namun riset-riset terbaru menunjukkan tak ada hubungan antara lepas bra dengan penyakit kanker.

Lantas buat apa ada aksi ini? Jelas-jelas ini untuk membangun awareness. Kesadaran akan bahaya kanker payudara harus dibangun di benak perempuan (dan laki-laki). Perempuan diminta untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin. 

Lihat langkahnya di laman Yayasan Kanker Indonesia. 

Selain itu perempuan juga diminta untuk melakukan pemeriksaan ke dokter lewat USG atau mamografi.

Sudah jelas sekarang, tujuannya adalah membangun kesadaran untuk deteksi dini penyakit ini. Jadi kalau hanya posting gambar #NoBraDay tanpa ajakan deteksi penyakit dini ya itu namanya penyembelihan.

Bung Karno pernah bilang ke kita untuk jangan “mengambil abu dan bukan apinya.” Barangkali kita sering melanggar nasihat ini. Kita senang memotret ide “no bra”nya daripada ide membangun awareness terhadap “breast cancer”nya.

Maka tak berlebihan kalau postingan-postingan kemarin itu omong kosong. Demikian juga dengan tulisan ini.

Baca Tulisan Lain