03 January 2015

Patah Hati, Soe Hok Gie, dan Umur 18 Kita

Gambar diambil tanpa ijin dari uniqpost.com

Saya sering patah hati. Bukan [hanya] karena perempuan, tapi juga karena ketidaktahuan orang akan sesuatu yang saya anggap mereka seharusnya tahu. Patah hati ini makin menjadi-jadi ketika sesuatu yang tidak mereka ketahui itu adalah hal yang saya idolakan. Mungkin terdengar terlalu ‘maksa’ dan kekanakan, tapi ini masalah hati. *malah curhat* Begini salah satu kisah patah hati saya. 
Sekitar delapan bulan lalu saya berkenalan dengan seorang jurnalis foto. Kami satu kantor, satu angkatan kerja di Jakarta, tapi dia sudah lebih berpengalaman. Dia sudah beberapa tahun bekerja sebagai jurnalis foto di tempat dia berasal, sebuah kota yang tidak jauh dari Yogyakarta. Dia sangat baik hati dan senang cerita tentang prestasinya, pengalamannya, dan kemampuannya. 

Suatu saat dia pergi memotret makam Soe Hok Gie di tengah-tengah belantara kota Jakarta. Saya agak lupa, dia pergi memotret atas inisiatif sendiri atau ditugasi oleh seorang redaktur. Setelah memotret makam itu dia [kalau tidak salah] harus membuat caption foto untuk menjelaskan. Lalu dia googling, sambil bercerita kalau dia tidak tahu Soe Hok Gie itu siapa. Terdengar berlebihan, tapi ketidaktahuan dia tentang Soe Hok Gie itu membuat saya patah hati *emot nangis*
Saya terkejut. Dia, orang  yang senang bicara, cerita banyak hal, tahu cerita macam-macam, bisa-bisanya tidak tahu siapa itu Soe Hok Gie? Yah, mungkin memang Soe Hok Gie bukan siapa-siapa untuk remaja orang muda seangkatan saya. Dia aktivis mahasiswa tahun ‘60an yang cerdas, Tionghoa, meninggal di Semeru saat masih begitu muda, dan tulisan kritisnya tajam sekali. Bukan siapa-siapa memang, tapi entah kenapa saya tertarik untuk mengenalnya sejak delapan tahun lalu, alias ketika masih SMA.
Saat SMA [hingga sekarang sih] saya jarang punya uang banyak. Maka ketika jam istirahat teman-teman pergi ke kantin, saya menahan haus pergi ke perpustakaan. Saat itulah saya menemukan buku yang kira-kira berjudul “Catatan Seorang Demonstran.” Ternyata buku itu berisi tentang catatan harian Gie. Rupa-rupanya dia rajin menulis catatan harian, sejak remaja hingga menjelang akhir hayatnya. Saya membuka-buka catatan dia dan menemukan puisi yang selama ini saya cari-cari, yang ada kata-kata “..kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta.”
Puisi itu berjudul “Sebuah Tanya.” Pertama kali saya dengar puisi itu ketika Nikolas Saputra membacanya, diiringi gesekan celo lagu “Cahaya Bulan”, disusul lagu dengan judul yang sama. Sejak itulah saya bertekad mencari-cari puisi itu secara utuh. Nah, jadi harus diakui, awal dari mengenal Soe Hok Gie adalah karena puisi yang dia buat. Namun, setelah saya baca-baca lagi, Gie ini adalah orang yang memang bukan orang biasa. Silakan anggap saya berlebihan, tapi saya rasa dia adalah salah satu dari orang yang melampaui jaman. Mungkin karena dia memang cerdas, atau karena dia juga suka membaca.
Berikut saya kutipkan salah satu tulisan dia:
“..kini aku pesimistis pada dunia. Aku cinta pada anak-anak, binatang-binatang, rakyat yang sabar dan patuh ditindas. Tapi di samping itu manusia itu kejam sekali. Lihat ada peperangan, sengsara, penipuan, perbudakan. Itulah manifestasi-manifestasi dari kebudayaan-kebudayaan manusia.
Kalau begini alternatif satu-satunya, mengapa kita tidak akhiri saja peradaban kita ini? Tujuan kita ialah kesenangan dan kesempurnaan. Tapi kita adalah makhluk-makhluk yang tak mungkin hidup bersama. Kita akan berkonfrontasi dengan persoalan-persoalan ketamakan, alam, dan kekejaman. Jadi peradaban cuma alat. Kalau itu gagal baik kita buang dan hancurkan saja. Kalau Tuhan ada dan ia makhluk yang aktif maka aku kutuki Tuhan. Ia bagai raja yang mahakuasa, lalu dia cipta manusia-manusia, semuanya ini dan kalutlah semuanya. Dia seolah-olah cuma bergurau dan iseng-iseng. Mengapa dunia ada? Aku pokoknya menolak semua agama yang membebek. Bagiku Tuhan adalah kebenaran. Ia ada dan tiada. Ia terjadi bukan menjadi. Tapi bagaimana dengan manusia lain? Masa bodo.
Manusia mempunyai ide-ide yang tinggi. Lalu ide-ide tadi ia lekatkan pada Tuhan. Dan apa yang ia lekatkan kembali, lalu dia hambai, dia sembah. Lucu sekali tapi penting: seperti keledai yang menaruh seikat rumput pada mukanya lalu dikejarnya.
Katanya dulu ada seorang haji di Kartasura. Dia beranggapan bahwa Tuhan ada di mana-mana dan anjing-anjing pun dinamai dengan nama nabi-nabi. Ia dikejar.
Tapi bagiku dia benar. Dia tahu bahwa agama cuma obat bius. Lalu ia sadar akan makna sebenarnya. Dan itu diberitahukan kepada manusia. Manusia itu malu dan ingkar, jadi dia kejar haji itu.”
Tulisan tersebut ditulis hari Sabtu 27 Agustus 1960. Gie lahir tanggal 17 Desember 1942. Artinya, dia sudah menulis itu ketika dia belum genap berumur 18 tahun! Anda bisa bayangkan berapa buku filsafat dan karangan Marx yang sudah dia baca ketika itu?
Saya menyarankan anda melakukan apa yang saya lakukan: membandingkan diri dengan Gie ketika berumur 18 tahun. Sungguh saya malu. Ketika itu saya malah sedang terjebak romantisme cinta remaja dan hanya berjuang agar bisa diterima di universitas yang bagus. Buku-buku yang saya baca paling novel ringan, atau kumpulan puisi, tak lebih dari itu. Bagaimana dengan masa 18 Anda?
Nah, itulah yang membuat saya mengidolakan sosok muda yang sudah tiada ini. Sebenarnya masih banyak tulisan dia yang sangat pantas untuk Anda tahu. Kalau tertarik untuk tahu, anggarkan saja sedikit uang untuk beli bukunya di toko buku terdekat. Lalu bacalah kehidupan Gie, kehidupan aktivis, perkuliahan, dan cinta masa mudanya. Sekalipun dia bukan siapa-siapa, tulisan yang dia tinggalkan pasti akan mencerahkan pikiran Anda.
Semoga dengan tulisan ini patah hati saya terobati.
  
..awal tahun 2015, di tengah-tengah mata lelah menulis paper ilmiah..

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain