24 January 2015

Sekian Menit

Sekian menit yang lalu aku berpikir tentang indahnya penelitian yang akan kubuat sebagai tesis. Tentang judul dan tema yang kusenangi, tentang metode analisis yang keren tapi sulit kupahami, dan tentang proposal sangar yang akan kujual kepada penyandang dana. Semua itu menyusun kisah-kisah imajiner yang berada di mataku yang tak lelah beradu dengan monitor.


Sekian menit lamanya aku membayangkan berada dalam keindahan itu. Membaca ratusan jurnal sampai malam-malam. Aku sering ngampet teriak ‘asu!’ karena bahasa Inggris para ilmuwan itu makin tak terpahami. Juga ngampet tepuk tangan dan bersorak sekeras mungkin ketika menemukan teori dan pernyataan yang mendukung tulisan. Ketika aku menabrak ‘dinding’ lalu mencuri-curi kesempatan barang sehisap dua hisap di halaman rumah ketika orangtua terlelap. Berharap bisa lancar lagi seiring keluarnya barang hasil hisapan itu.

Sekian menit rasanya aku mendengar pujian dan semangat dari orang-orang terdekatku untuk segera merampungkan tesis yang tinggal ‘saudutan.’ Setelah ‘saudutan’ itu lalu aku bisa menanggalkan status mahasiswa, mungkin untuk sejenak saja. Saat itu ibu dan bapak dengan bangga bercerita ke kolega,“Anakku jadi peneliti di sana. Sekarang lagi lanjut di negara orang.” Di sana, telingaku panas karena namaku sering disebut dalam perbincangan ibu dan bapak. Mereka sering berbincang, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Sekian menit kemudian aku berhenti menulis draft tesis. Lalu keindahan itu terenggut, cepat dan terlalu banyak. Menyisakan batuan cadas yang runcing. Keadaan memaksaku mengaku bahwa aku baru saja rampung semester satu. Masih ada satu semester lagi aku belajar teori, mendiskusikannya di antara teman-teman yang luar biasa, dan di depan para dosen yang seringkali memandang hina. “Tau apa kamu ini, teori komunikasi dasar saja masih mengeja,” gumam mereka. “Wajarlah, su. Kalian sudah kenal teori-teori ini ketika aku masih menangis merasakan udara pertama kali,” aku membatin.

Sekian menit aku memandang ke luar jendela, hanya ada balkon yang berlumut. Aku tersadar masih ada juga semester ketiga untuk menulis proposal penelitian. Proposal itu seringkali licin, seperti lumut yang kulihat di situ. Salah satu dari orang tua itu, si makelar ilmu, pernah bilang,”Banyak yang bikin proposal sekadar memenuhi nilai, tidak sekalian dijadikan proposal tesis. Mungkin kebanyakan tenaga.” Kami hanya tersenyum, berharap kelak kami tidak jadi pihak yang diceritakan itu.

Sekian menit aku memejamkan mata, enggan melihat jalan di depan yang masih panjang. Aku hanya menunduk. Lalu membuka mata pelan dan melihat sepasang kaki. Ah! Aku masih punya kaki. Ini yang akan kugunakan untuk menggilas jalan panjang itu. “Hai, kaki! Siapkah?” tanyaku. Mereka diam. Aku hanya melihat bekas lelah di kaki ketika aku sampai di puncak gunung kala itu. Pasti itu jawaban, jalur batuan runcing, jalur tanah licin, menanjak atau terjal menurun, semua akan kulewati dengan kaki ini. Menyelesaikan yang satu ini adalah membuat kisah pendakian yang lain. Semoga kisahnya indah.


Perpustakaan pusat kampus biru lantai empat. Ketika hujan mulai turun membasahi motor yang baru kemarin dicuci.. hiks.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain