08 January 2017

Sayang, Change.org adalah Betul-Betul Wadah


Kira-kira setahun yang lalu saya kagum dengan ide petisi online. Dulu petisi ditandatangani oleh orang-orang secara manual. Kini dengan bantuan internet, sebuah isu yang dipetisikan bisa ditandatangani hingga ratusan ribu orang dalam waktu yang relatif singkat. Peserta petisi juga bisa membagikan kabar itu di akun jejaring sosial mereka guna mendapatkan dukungan yang lebih luas.

Salah satu platform petisi online yang populer di Indonesia adalah Change.org. Platform ini sebenarnya bersifat internasional, dia ada di puluhan negara lain juga selain Indonesia. Saking kagumnya dengan petisi online dan Change.org, saya sampai menulis soal ini dalam beberapa paper ilmiah sebagai tugas kuliah.

Kala itu saya menganggap bahwa Change.org adalah betul-betul kepanjangan tangan dari demokrasi. Warga bisa menekan pihak-pihak tertentu untuk melakukan apa yang menjadi kehendak warga. Tentu saja tekanan itu terbatas ya, “hanya” dengan cara membombardir alamat email pihak itu dengan email dari peserta petisi. Hal yang diserang adalah kredibilitas dari pihak tertuju petisi tersebut. Sudah di”serang” oleh ratusan ribu tanda tangan kok masih saja bebal dan tidak bergerak?

Tema petisinya juga menurut saya keren-keren. Kalau saya tidak salah ingat beberapa tahun ini tema-tema yang banyak muncul adalah soal lingkungan, politik, dan kemanusiaan. Dengan tagline “Wadah Perubahan” saya melihat platform ini positif sekali. Memang betul ada banyak perubahan, setidaknya berdasarkan apa yang dilaporkan mereka tiap kali petisinya berhasil.

Sekarang kondisinya agak berbeda. Bagai orang pesisir yang biasa saja tatkala melihat laut yang indah, saya juga demikian. Saya mengernyitkan dahi ketika saya menganggap Change.org adalah betul-betul wadah saja. Orang bisa saja sesuka hati menganggap suatu hal memiliki tingkat kepentingan yang tak bisa lagi ditawar, kemudian mem-petisi-kan hal tersebut untuk minta dukungan.

Saya terkejut dengan petisi berjudul “Semua Manusia: Memaksa Bapak Jokowi Melakukan Tes DNA sebagai Klarifikasi atas Fitnahan NEO PKI” yang digagas oleh akun bernama Anti Pembohong.

Berikut saya kutipkan teks pengantar di bawah judul petisi tersebut

Ini jalan terakhir pembuktian, jangan anggap kami gila bila anda bernyali...!
Lebih gila siapa dibanding membohongi jutaan manusia..?
Lebih dosa mana orang yang memfitnah dengan orang yang memelihara fitnah..?

Bapak Jokowi yang terhormat, anda jangan jadi pengecut seperti yang dimakan anakmu di singapore. Buktikan tuduhan kami adalah fitnah dengan mengklarifikasi anda bukan pemalsu identitas ibu kandung Sulami.

Anda durhaka mengakui ibu kandungmu Sudjiadmi yang sesungguhnya ibu tirimu istri kedua ayahmu si Ketua OPR PKI. Jangan malu sekalipun ibu kandungmu Wakil Ketua Gerwani Pusat yang melahirkan adik tirimu hasil selingkuhan Michael Bimo Putranto, agar Abraham Samad bernyali mengusut Trans Jakarta.

Apakah anda kira dengan membredel para demonstran akan membuat kami kecut?

Anda itu masih makan nasi pak. Kami percaya adanya Tuhan.

Anda telah membangunkan singa tidur wahai anak PKI. Rakyat Indonesia yang merasa anda bohongi akan terus melawan anda bila anda anggap ini cuma bualan.

Apakah anda kira kekuasaan itu abadi?

Semakin engkau zolimi maka akan semakin membakar keberanian kami menentangmu hei manusia munafik.

Salam 5 jari Anti NEO PKI

Gatal sekali rasanya ingin mengomentari setiap kata yang ditulis dalam pengantar ini. Nantilah saya tuliskan di postingan lain. Pada postingan ini saya menekankan pandangan saya soal Change.org yang termakan sendiri oleh penamaan wadah pada dirinya. Bagi saya Change.org menurunkan kredibilitasnya karena melakukan kesalahan berlapis.

Anonimitas. Kita tahu sendirilah anonimitas ini menjadi peluang sekaligus ancaman di dunia maya. Untuk isu sebesar ini (ini soal kepala negara, soal martabat negara, bukankah cukup besar?) kenapa bisa meloloskan akun anonim untuk mengangkatnya?

Kabar burung. Belum dilihat pula dari latar belakang informasi ini yang tidak jelas. Soal Jokowi  yang keturunan PKI, yang ayahnya Ketua OPR PKI dan ibunya Wakil Ketua Gerwani Pusat. Ini informasi dari mana? Lagipula.. kalau memang Jokowi keturunan PKI lantas kenapa? Katakanlah saya buta sejarah, tapi akuilah kalau ketakutan soal PKI (dan Neo PKI) ini sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu dengan agenda tertentu pula.

Logika yang embuh. Saya tidak paham mengapa orang yang dituduh malah disuruh membuktikan bahwa tuduhan itu tak benar? Bukannya seharusnya beban pembuktian ada pada orang yang melontarkan tuduhan? Misalnya, saya menuduh Anda adalah hewan. Maka saya haruslah membuktikan bahwa tuduhan saya itu benar. Saya harus mencari bukti ciri-ciri fisik dan kemampuan kognisi yang Anda miliki itu sama persis dengan yang dimiliki hewan. Kan yang menuduh saya, dan Anda yang kena tuduh. Jadi Anda juga tak perlu membuktikan bahwa Anda bukanlah hewan. Bagaimana bisa ketidakpahaman logika sesederhana ini bisa lolos di Change.org sebagai wadah berkelas dunia?

Saya sungguh tak paham.

2 comments:

  1. Lawan hoax, sara, ujaran kebencian! Semakin hari semakin menghawatirkan saja. Kalau bukan kita siapa lagi

    ReplyDelete

Baca Tulisan Lain