31 July 2014

Rumah

Para awak media memberitakan hari ini (Kamis, 31 Juli 2014) hingga hari Minggu (3 Agustus 2014) besok akan terjadi puncak arus balik. Jalan-jalan di sekitar Yogyakarta memang sudah terasa padat sejak beberapa hari lalu. Sebut saja jalan Magelang, terutama di daerah sekitar Muntilan. Kalau daerah ini bukan lagi padat, tapi memang macet. Plat-plat luar kota bersliweran menyamarkan plat AA dan AB yang banyak ditemui di sana.

Mereka adalah orang-orang yang datang ke Yogyakarta mendekati Lebaran kemarin. Kita pantas bersyukur lantaran Lebaran tahun ini hanya satu hari dan serentak, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Akhir Juli kemarin, tepatnya 29 Juli 2014, adalah hari Lebaran yang menjadi alasan mereka datang ke Yogyakarta. Minggu depan, Senin (4/8), kebanyakan dari mereka sudah melaksanakan rutinitas harian lagi. Kebahagiaan Lebaran mereka berakhir di Agustus. 

Ngomong-ngomong, keluarga saya yang ada di Jakarta juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Yogyakarta sejak sebelum Lebaran. Kebetulan Lebaran kali ini sepupu yang lebih banyak berkunjung, bukan pakdhe-budhe. Ya, saya memang menggunakan kata “berkunjung”, bukan “pulang”, seperti yang digunakan oleh begitu banyak orang untuk mempertegas arti mudik.

Kok berkunjung? Karena memang mereka lahir dan besar di Jakarta, bukan Yogyakarta. Mereka juga punya rumah (house) di Jakarta, bukan di Yogyakarta. Biasanya, Yogyakarta adalah tempat asal orangtua mereka yang puluhan tahun lalu mengadu nasib datang ke Jakarta.

Di Yogyakarta mereka biasanya menginap di rumah simbah, atau di tempat saudara. Saya juga mendengar ada banyak pemudik yang menginap di hotel. Saat Lebaran mereka berkeliling ke tempat saudara-saudara yang hanya setahun sekali bertatap muka. Setelah silaturahmi selesai, belanja atau sekadar menikmati Malioboro adalah pilihan yang menyenangkan. Ketika masa libur Lebaran berakhir, mereka lalu pulang lagi ke Jakarta untuk sekolah, bekerja, melanjutkan hidup.

Satu hal yang menjadi keyakinan saya.

Mereka tidak pulang ke Yogyakarta, tapi pergi ke Yogyakarta. Mereka tidak pergi ke Jakarta, tapi pulang ke Jakarta. 

Sekeras-kerasnya Jakarta, dia adalah rumah. Dia adalah tempat di mana mereka mendapatkan uang dan ruang untuk pemenuhan eksistensi diri. Dia adalah kota impian untuk memperbaiki kesejahteraan hidup.

Senyaman-nyamannya Yogyakarta, dia adalah tempat berlibur. Dia adalah tempat bersinggah, yang sifatnya sementara. Dia adalah tempat untuk menghela nafas dari kepengapan kota Jakarta.

Namun ada yang yang membuat saya tertegun ketika melihat seorang gadis membagikan perasaan di akun jejaring sosial. Dia lahir dan besar di Jakarta, sementara orangtuanya berasal dari Yogyakarta.

“Selamat tinggal, Yogyakarta, suatu saat aku akan pulang lagi.”

Oh, tidak. Bukan hanya seorang gadis, tapi juga seorang anak laki-laki. Tapi sebentar.. Ternyata tidak hanya dua orang. Jumlah mereka puluhan, atau bahkan ratusan. Mereka memilih kata-kata yang berbeda untuk menyampaikan maksud yang kurang lebih sama.

Mereka menuliskan perasaan sambil menahan air mata yang nyaris mengalir. Sebagian bahkan sudah menyeka yang terlanjur jatuh. Gerbong kereta mendadak biru, penuh haru. Hari ini memejamkan mata ditemani kesederhanaan Yogyakarta, esok hari mereka sudah berhadap-hadapan kembali dengan kemewahan Jakarta. 

Mereka pergi dan diam-diam berjanji pulang lagi tahun depan.

Setelah turut merenungkan perasaan haru ini, keyakinan saya bisa jadi salah.

Mungkin, 
Yogyakarta memang rumah.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain